AGO MA AGO: BAHASA BELANJA PEREMPUAN MINANGKABAU

 


Judul Buku                 : AGO MA AGO: BAHASA BELANJA PEREMPUAN MINANGKABAU

Penulis                           : Dr. Ir. Abdul Aziz, M.M., Prof. Dr. Ratni Prima Lita, M.M.,

                                           Dr. Ma'ruf, S.E., M.Bus, Dr. Verinita, S.E., M.Si

Tata Letak                  : Feni Efendi

Desain Sampul           : Dr. Ir. Abdul Aziz, M.M.

                 

                 

 

Diterbitkan oleh:

Penerbit Fahmi Karya

Anggota IKAPI No. 047/SBA/2024        

Jl. Gunung Bungsu RT 01/RW 02, Sumur Cindai

Kelurahan Tiakar, Kota Payakumbuh, Sumatera Barat 26231

HP/WA     : 081377856115

Email         : penerbitfahmikarya@gmail.com

Website    : www.penerbitfahmikarya.com 

 

 

ISBN

Cetakan Pertama, Agustus 2025

viii + 73 hlm: 15,5 x 23 cm

Front CAMRIA, 1,15 Spasi, Size 11

 

sinopsis

Sebagai sebuah masyarakat yang matriarkal, peran perempuan dalam budaya Minangkabau sangatlah sentral, tidak hanya di ranah domestik tetapi juga dalam kegiatan ekonomi. Salah satu ruang di mana peran ini sangat terlihat adalah di pasar tradisional. Di tempat inilah, interaksi antara penjual dan pembeli—yang mayoritas adalah perem-puan—menghasilkan sebuah pola komunikasi khas yang jauh dari sekadar tawar-menawar harga. Bahasa yang digunakan bukanlah bahasa formal, melainkan sebuah bentuk komunikasi yang penuh dengan kode, isyarat, dan makna tersirat yang hanya dipahami oleh mereka yang terlibat.

        Istilah “Agoma Ago” yang kami gunakan sebagai judul buku ini berasal dari frasa dalam bahasa Minangkabau yang secara harfiah berarti “mau berapa?” atau “berapa harganya?”. Namun, dalam konteks sosial, frasa ini juga bisa bermakna lebih dalam, mencerminkan sebuah dinamika tawar-menawar yang melibatkan strategi, negosiasi, dan kadang kala, humor. Lebih dari sekadar transaksi jual-beli, proses ini adalah sebuah ritual sosial yang merekatkan ikatan antarperempuan, menjalin persahabatan, dan saling berbagi cerita di tengah kesibukan pasar.

       Buku ini akan membawa pembaca untuk menyelami lebih dalam keunikan bahasa tersebut. Penulis akan membedah bagaimana intonasi, pemilihan kata, hingga ekspresi wajah menjadi bagian tak terpisahkan dari komunikasi. Pembaca akan diajak memahami mengapa sebuah tawaran harga bisa ditolak dengan senyum, atau mengapa sebuah harga bisa disepakati hanya dengan anggukan kepala. Penulis berharap, melalui buku ini, pembaca dapat melihat pasar tradisional Minangkabau bukan hanya sebagai tempat transaksi ekonomi, melainkan juga sebagai panggung pertunjukan budaya yang dinamis. Penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh perempuan hebat Minangkabau yang telah berbagi pengalaman dan pengetahuan mereka, sehingga buku ini bisa terwujud.

 

 

 

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama